Haddad Alwi feat Sulis - Ya Nabi Salaam Alaika .mp3
Found at bee mp3 search engine

KENANGAN LALU

14 Oktober 2011 | Komentar (1)


MELIHAT gambar diatas membangkitkan kenangan masa lalu, waktu saya kecil. Masa kecil semua orang pasti indah. Maunya main mulu, nggak pagi, siang, sore, malam, main aja judulnya. Susahnya cumak satu, kalo dimarah ama bapak ato ibuk.


Itu saja.


Kamis, sore, 13 Oktober 2011, saya datang pada walimatul ursyi, Suryana, salah satu karyawan pabrik Cibinong.

Perkawinannya sederhana, dengan lantunan musik-musik islami, tamu hilir-mudik bergantian masuk menyalami pengantin. Sambil menikmati hidangan, saya beramah-tamah dengan tamu disamping.

Ternyata beliau paman dari mempelai wanita.


Kami bicara soal, banjir, kekeringan sampai mempelai wanita yg sudah tak ada orangtuanya lagi. Subhanallah.


Saya menyukai perkawinan dengan cara sederhana, yang penting Allah ridho atas pernikahan itu. Bukan pesta yang meriah yang paling penting, namun bagaimana the day after alias pasca pernikahan itu. Bagaimana mengatasi perbedaan, bagaimana menerima kekurangan, dan bagaimana menyelesaikan kesulitan yang muncul di setiap masa.


Di sela-sela perjamuan itu, saya tertarik untuk mengabadikan poto anak laki-laki kecil di depan saya yang tampak asyik memainkan hape ibunya. Umur anak ini kira-kira 5 tahun. Pikiran saya melayang ke 37 tahun lampau saat saya seusia dia. Apa yang sedang dia pikirkan?


Sama dengan saya, barangkali, kita hanya ikut ibu atau bapak kita. Perkara lain, itu diluar pikiran kita.


Saya inget waktu itu kami tinggal di Blitar (kami tinggal di asrama Kompi Ban, Jalan Tanjung, sekarang jadi STIE) saya diajak menghadiri pernikahan adiknya Pak Sugianto (tentara, teman Bapak) di daerah Lodaya. Kami orang komplek naik ges (sejenis jip tentara, yang pake slenger untuk menghidupkan mesinya). Kami lewati jalan yang berkelok-kelok, bergunung akhirnya sampai.


Waktu pulangnya, ibu cerita, saya nggak mau naik ges jelek itu lagi (di tengah jalan, kami kehujanan, dan air masuk). Saya maunya naik jip yang ada "benderanya".

"Itu punya, komandan...." kata Ibu.

Saya nggak mau tahu, tetep nggak mau pulang kalo naik ges. Benar saja, Komandan dan istrinya berbaik hati ajak saya naik. Ya, Allah, nyusahin Ibu betul saya waktu itu. Inget itu saya menangis diam-diam. Betapa, berdosanya saya pada Ibu. Bagaimana segan, takut dan tidak nyamannya hati Ibu menghadapi anaknya yg pengen naik mobil enak.


Kisah ini saya tulis, sehari, setelah pernikahan Suryana. Dan saya masih mengingat kenangan lalu saya lewat poto anak laki-laki kecil yg duduk di depan saya itu.

Duh, bahagianya menjadi anak kecil, masih punya bapak dan ibuk yang menyayangi kita setiap saat.


Duhai Ibu, sudah kukirimkan 7 pesona surat-surat Al-Quran : Ya-Sinn, Al Mulk (kesukaanmu), Al-Waqiah, Ar-Rahman (yg kubaca dengan cinta yg penuh), Aj-Jinn, Al-Mujjamil, Al-Fajr, padamu dan pada ayah.


Semoga engkau bergembira di alam damaimu. Dari anakmu, pecinta Rasulnya, dan berusaha menjadi mahluk soleh dari Pemilik Kesolehan alam raya ini.

SAKIT TENGGOROKAN

10 Agustus 2011 | Komentar

BISMILAHIRRAHMANIRRAHIM. Biasalah pembaca yg budiman, namanya orang puasa, apa aja yg keliatan enak, pasti disantap, apalagi menjelang berbuka. Itulah petaka bagi saya. Sabtu sore, 6 Agustus 2011 saya beli es degan kesukaan saya. Begitu nyampe rumah pas menjelang adzan magrib, langsung saya tenggak tuh minuman. Setelah nyamber beberapa kue dan buah dingin, saya samber juga teh panas buatan mertua (kebetulan mertua udah nyiapin). Awalnya asyik-asyik aja. Namun besoknya tenggorokan ada yang nggak beres.

Cilakanya, saya kadung menyetujui untuk memberi kultum solat subuh di Mesjid Al-Muqarrabin, besok pagi. Duh. Gawat! Bisa nggak lancar acara silaturahmi ilmu besok.

Buru-buru, saya kunjungi salah satu apotik deket rumah saya, letak apotik ini di jalan tembus perumahan saya dengan jalan RTM Kelapa Dua Depok. Yang menerima saya mbak-mbak agak gemuk tapi manis. Hihihi.....

Mbak....saya lagi radang tenggorokan. Apa obat untuk saya ya? Kata saya bergaya upin-ipin. Si Mbak ini tersenyum, "Mau satuan atau paketan?"

Yang pasti saya ada flu, batuk, meriang dan....., kata saya.

Si Mbak langsung nyamber aja, bapak perlu paketan deh!
Berapa....tanya saya sok pelit.
25 ribu.

Baiklah, kata saya.

Nggak lama diambilnya beberapa obat dalam beberapa kaplet dan diangsurkan ke saya. Saya hitung ada 5 jenis. Haddooohhh.....!

Diminum semua inih, tanya saya menawar.
"Lha iya..., kata Si Mbak manis balik.
Saya mengangguk-angguk. Bengong.

Si Mbak dengan cekatan menulis di kaplet 3 x 1 dan aneka tulisan lain.
Bikin puisi, Mbak, tanya saya menggoda.
"Cerpen..."jawabnya cepat, masih dengan wajah manis.

Setelah itu dia jelasin dengan gaya dokter pada pasiennya, panjang kali lebar. Dan setiap dia ambil napas jeda, saya jawab : iya Bu Dokter....iya Bu Dokter, dengan gaya jenaka.

Setelah saya bayar, saya berbalik ambil sepeda motor pergi. Sayup-sayup saya dengar, bapak itu manis ya, dia bicara ama temannya.

Manis? Legen kalee, pikir saya sambil pergi.

Sampai dirumah saya buka satu-satu :
1. Calviplex (vitamin) diminum 2 x 1
2. Grathazon (anti radang) diminum 3 x 1
3. Ciprofloxacin 500 mg (tablet salut selaput) 500 mg diminum 3 x 1
4. Ambroxol (pengencer dahak, 30 mg) diminum 3 x 1
5. Alpara (menghentikan batuk, demam, pusing) dg dosis paracethamol 500 mg diminum 3 x 1

Setelah bedug magrib, kelima obat itu saya minum. Dasyat lo....Tenggorokan nggak gatel-gatel lagi. Terus flu berhenti dan pusing berkurang. Saya optimis bisa ngasih kultum di mesjid dengan selamat besok pagi.

Demi memaksimalkan obat, jam 23.15 saya minum lagi. Dan terakhir setelah sahur saya tenggak lagi. Suara saya kembali enak, nggak kayak siang kemarin yang memelas. Kenapa memelas? Cos begitu saya berjamaah magrib di rumah dengan istri, saya wirid panjang dan baca doa, terdengar suara saya begitu menyayat seperti orang yang khusyuk. Padahal lagi radang. Hehehe....

Alhamdulillah, kultum di mesjid terlewati dengan sukses. Terima kasih Mbak apotik yang gemuk tapi manis. Hehehe.....

LAKI-LAKI MENANGIS

07 Juli 2011 | Komentar




DIANTARA karunia dan nikmat Allah bagi umat ini adalah Dia (Allah) mengutus Nabi Muhammad kepada kita. Dengan diutusnya Muhammad
Rosulullah, Allah menjadikan mata yang buta menjadi terbuka, membuat telinga yang tuli menjadi mendengar, dan membuka kalbu yang terkunci mati.

Diutusnya Rasulullah, Allah menunjuki orang yang sesat, memuliakan orang yang hina, menguatkan orang yang lemah dan menyatukan orang serta kelompok setelah mereka bercerai-berai.

Selasa 5 Juli 2011 bila anda nonton TV-One live ada menanyangkan pemakaman KH. Zainuddin MZ. Kamera sempat menyorot dua tokoh nasional H.Rhoma Irama dan KH. Nur Iskandar SQ keduanya tampak menangis.

Mengapa mereka menangis?

Pernahkah anda menangis oleh karena melihat orang meninggal dunia? Ataukah kita baru mengingat pada kematian?

Ad-Daqqa berkata : "Barangsiapa yang sering ingat kematian, ia akan dimuliakan dengan 3 hal, yakni : lekas bertobat, hati yang qanaah (menerima apa adanya ketentuan Allah), dan semangat dalam beribadah.

"Dan barangsiapa yang lupa pada kematian, ia akan diberi sangsi 3 hal yaitu: lambat bertobat, tidak puas dengan pemberian Allah dan malas beribadah".

Tentang kematian Imam Qurtubi berkata :"Wahai orang yang tertipu akan kematian dan saat-saat yang krusial ketika kamu sedang sekarat. Kematian adalah janji yang pasti akan ditepati. Kematian adalah hakim yang adil. Kematian adalah luka. kematian membuat mata menangis. Kematian mengakibatkan perpisahan. Kematian melenyapkan kenikmatan-kenikmatan dan kematian memutuskan harapan serta angan-angan.

Menurut riwayat, Rasulullah pernah menangis di pusara ibunya ketika beliau memintakan ampun pada Allah swt. Nabi juga pernah menangis saat minta dibacakan Quran dan Ibnu masud membaca An-Nissa hingga ayat yang ke-41...."Bagaimanakah kalo Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka".

"Cukuplah..." kata Nabi.

Selanjutnya Ibnu Masud menoleh kepada beliau dan mendapati kedua mata Nabi telah berlinang air mata (HR. Bukhari-Muslim).

Umar Ibnu Khatab pernah menangis kepada Abu Musa, karena takutnya siksa Allah atas dirinya padahal Nabi, pernah menjamin Umar adalah salah satu calon penghuni surga. Mengapa? Karena Umar merasa tidak pantas, Umar merasa dosanya makin nambah setiap hari.

Umar bin Abdul Azis yang kita kenal sebagai Khalifah ke-5 setelah Abubakar, Umar, Ustman, dan Ali, dulu sebelum menjadi khalifah suka menyendiri di kamar dan sering menangis. Ibuya mendekat dan memeluk Umar : mengapa kau menangis anakku?

"Tiada sesuatu apapun wahai Ibu, hanya saja aku teringat akan kematian...."

Ali bin Zaid mengatakan: Umar bin Abdul Azis selalu ketakutan, seakan-akan neraka itu hanya khusus diciptakan untuk dirinya saja.

SEORANG bijak mengatakan kesehatan jasmani terletak pada sedikit makan, keselamatan ruh terletak pada sedikit dosa, dan keselamatan agama terletak pada sholawat pada manusia terbaik, Muhammad saw.

Allah berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat ke-18, " Wahai orangorang beriman, bertaqwalah pada Allah (yakni takutlah dengan siksaan2-Nya). Hendaknya setiap diri kita memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok".

Berbahagialah orang-orang yang mampu menetes air matanya karena ingat kepada Allah dan takut akan ancaman-ancaman-Nya. Orang-orang seperti inilah yang Rasulullah maksudkan dalam riwayat Tirmidzi: "Tidak akan masuk neraka seorang yang pernah menangis karena takut pada Allah sehingga dapat kembali air susu ke dalam susu. Dan tidak akan berkumpul selamanya debu jihad fi sabilillah dengan asap neraka jahanam."

Sudahkah kita mempersiapkan kematian kita?




BEHIND THE SCENE

19 Juni 2011 | Komentar





Bismillahirahmanirrahim. Semoga Allah menjaga jari saya agar mudah menulis kisah ini dengan ringan. Sejak dulu saya paling "tidak nyaman" tampil. Selalu lebih nyaman bagi saya untuk menjadi tim pendukung atau bahasa klimisnya orang di belakang panggung, agak sedikit dihebohkan sebagai man behins scene.


Hari ini, Minggu, 19 Juni 2011 saya ada sedikit kisah.

Tiap minggu ketiga setiap bulan, Saya bareng istri "agak kesiangan" pergi ke majelis zikir Az-Zikra di Perum Mampang Indah 2, Sawangan Depok. Alhamdulillah tepat pukul 8 pagi kami sampai. Dengan buru2 kami bergabung dengan ribuan jemaah yang sudah memadati area zikir di lapangan luar Mesjid Al Amru Bi Taqwa.

Istri ke kelompok ibu-ibu, saya mengambil shaf di tengah, kebetulan ada space kosong untuk satu orang. Di depan tengah memberi tausyiah Ustadz Syaroni dengan pengalaman2 spiritualnya. Saya beruntung tak lama setelah Ustadz Syaroni, tampilah Ustad Abdul Syukur memimpin zikir bersama. Pendek kata, saya masih dapet acara inti, walau ketinggalan membaca Yasin, Al-Mulk dan sedekah jariyah.




Setelah khusuk berzikir, pukul 9.30 acara bubaran.


Kami berjalan menuju kendaraan. Ada ibu berbaju putih menuntun anak lelaki kecil (5 tahun) dan istri menyapanya. Istri terlibat pembicaraan ringan. Inti yg saya tangkap ibu tadi akan bertemu Mbak Yuni (Istri Ustadz Arifin Ilham) namun karena kurang koordinasi Mbak Yuni nggak ada di rumah di Mampang Indah 2. Kata penjaganya Mbak Yuni ada di Sentul.

Ibu itu minta ikut ke depan (ke jalan raya) untuk nyegat taksi. Alhamdulillah kami tawarkan untuk mengantar ibu ini ke Sentul, kebetulan istri ada undangan menghadiri pernikahan adik kawannya.

Ibu itu setuju dan lega.

Kami berangkat mengambil rute Depok-Cimanggis-Pal 29-Auri-tol Cibubur menuju Bogor. Di perjalan kami berbincang-bincang ringan. Kami baru tahu, ibu ini suaminya sudah meninggal. Konon semasa hidup, ibu dan suaminya sering "runtang-runtung" dengan Arifin Ilham. bahkan Ustadz Arifin sering bertemu suaminya di rumahnya di pesantren kawasan Pandaan Jawa Timur. Saya sempat terkejut melihat poto suaminya, lebih mirip Osama Bin Laden. Hehehe...Sebangsa habib, rupanya.

Keiklasan kami mengantar ke Qadafy Islamic Center (QIC) rupanya diganjar "tunai" Allah. Setelah memarkir kendaraan di samping dua mobil baru Honda Civic warna hitam dan silver, dari rumah besar disamping QIC, saya lihat orang kebanggan umat M. Arifin Ilham baru keluar rumah. Tampaknya dia mau pergi lagi, terlihat dia membawa tentengan tas dan membawa kamera bertele.

Saya salamin ustadz Arifin plus cium pipi kiri-kanan dan saya kabarkan maksud kedatangan kami mengantar ibu (umi) bertemu Mbak Yuni. Ustad Arifin mempersilakan kami masuk. Subhanallah.




Rumah besar itu kami masuki dan tak lama Mbak Yuni menyambut kami. Sayangnya Mbak Yuni juga mau pergi, sehingga kami harus juga segera kembali.

Saya ketemu dengan adik Ustadz Arifin, ketika saya sapa " adik ustadz Arifin?

"Inggih..." jar dengan sedikit menyembunyikan logat Banjar-nya. Seorang pemuda kira-kira berumur 25 tahun, berjenggot tipis memakai baju kasual dengan memainkan BB.

Mbak Yuni juga mengantar kami ditemani muslimat cantik (mirip muslimat timur tengah) kukira itu adiknya.

Akhirnya, kami kembali ke jalan tol, mengantar umi nyari taksi ke Cibubur dan kami meneruskan perjalanan kondangan ke Pakuan Hill Bogor.

Wahai Yang Maha Baik, Terima kasih Engkau himpun kami ke dalam lingkar kecil orang-orang saleh. Kebahagiaan terbesar saya sedikit demi sedikit Allah telah berikan dengan "bersalaman langsung" dengan idola saya seperti Ustadz Arifin ini. Sebelumnya saya sudah ketemu muka dengan KH. Abdurassyid Abdullah Syafii.

Perlahan-lahan hati saya mengkilat, mata menetes haru. Pertemuan demi pertemuan yang saya anggap ajaib, telah Allah atur untuk saya. Semoga saya bertambah "senang" dan "nikmat" untuk beribadah, menghadiri majelis ilmu, berzikir pagi-sore dan tilawah berdialog dengan pemilik alam.

Terima kasih Wahai Yang Maha Baik.

DHANI

22 Desember 2010 | Komentar (2)



NAMA DHANI banyak; Dani temen saya waktu di MDS. Jatinegara Plaza 2, dia seorang sekurity. Dani, masih temen saya, dia seorang pedagang baju dipasar Pal Cimanggis, sebelumnya dia satu kantor dengan saya di Gudang Matahari Cimanggis. Dani lagi, adalah seorang HRD Manager di penerbitan Al-Kautsar yang kini mencoba membuat penerbitan sendiri di Bogor (Abu Hanivah Publishing).

Mana Dhani yang saya maksud?

Tak lain dan tak bukan Dhani adalah nama keponakan saya, anak kakak kandung saya satu-satunya : Anis Ismulyaningsih. Saya biasa panggil kakak saya dengan sebutan Mbak Ning. Dia tinggal di Kabat, sebuah dusun kecil di kecamatan yang nggak top di Banyuwangi. Tapi dari Kabat pulalah Bapak, Ibuk, Mbak Ning dan saya lahir.

Mbak Ning menikah dengan Mas Mamiek, seorang drummer asal Waru-Sidoarjo, tahun....lupa saya, mungkin 1996, dua tahun menikah lahirlah Dhani. Yang memberi nama Dhani adalah ibu saya, lengkapnya Mardhani Muhammad Zikri Hidayatullah. Byuh-byuh abot tenan jenenge iki!!!

Dhani lahir 6 Maret 1998, satu bintang dengan saya, 17 Maret 1968. Hehehe....bintang Pisces kata zodiak. wallahu alam. Waktu kecil Dhani agak lama bisa berjalan, kakinya lemah untuk anak seusianya. Gendong.....ae, kerjaannya. Tahun 2001 akhir ampek Mei 2002 Dhani, Ibuk saya dan Mbak Ning, mengunjungi rumah kontrakan saya. Saya ngontrak di Perum Bukit Cengkeh 2, Blok E2 , Cimanggis Depok waktu itu. Namanya juga anak kecil, dikit-dikit nangis kerjaanya.

Pernah saya bawa pergi Solat Idul Adha di mesjid Al-Hikmah deket gerbang Bukit Cengkeh 2, eh belum juga kelar kutbah kedua, Dhani nangis mingsek-mingsek.

Kenapa? Kata saya. "Pulang, Om...."
Ssst.....ntar dikit lagi ya, biar gondok saya mencoba membujuk. Sebagai Om-nya, saya memang agak keras mendidik dia, termasuk membawa dia ke Mesjid.

Pernah waktu datang ke TMII, Dhani saya gemblok baik datang maupun pulang. Cos nggak punya truk waktu itu. Hehehe....Dhaninya malah ketiduran.

Nggak jelas tahunnya Mbak Ning pisahan dengan Mas Mamiek, mungkin 3-4 tahun yang lalu, sehingga saya punya kewajiban untuk lebih membimbing Dhani sebagai seorang anak kecil. Awal tahun 2010 saya punya inisiatip mau masukin Dhani ke Podok Pesantren Gontor. Kebetulan Dhani udah kelas 6 SD dan mau kelulusan. Mbak Ning setuju, akhirnya setelah EBTANAS, Dhani masuk Gontor di Ponorogo.

Setelah melewati masa pendahuluan (tinggal di Gontor 2 bulan) Dhani mengikuti seleksi penerimaan santri baru, dan Alhamdulillah dia lulus dan ditempatkan di Ponpes Gontor 5 Desa Kaligung Rogojampi, Banyuwangi, sekitar 30 menit perjalanan dari Kabat. sebelumnya Mbak Ning ngeluh mulu berpisah dengan anaknya. Mbak Ning di Banyuwangi, Dhani di Ponorogo.

Pilihan Gontor banyak yang nentang, terutama para tetangga Mbak Ning di Kabat. Ate dadi opo? Begitu kira-kira. Tentangan datang dari Mbak Sri (anak Bu Dhe) yang mencoba memberi tahu Mbak Ning: sekolah kok pesantren???

Tapi saya meneguhkan Mbak Ning tentang keinginan Ibu, juga keinginan saya agar anak kecil-kecil sejak dini belajar agomo. Saya nggak punya anak, sodara, jadi bisanya memprovokasi anak saudara. hehehe.... Untung Mbak Ning nurut aja keinginan adiknya yang mau nyekolahin Dhani ke Gontor.

Dhani sendiri, menurut Mbak Ning, rodok abot berpisah dengan ibunya, tapi kata saya, mondok ya harus ngikutin peraturan pondok, nginep siang-malam bareng temen2 pondok, berpisah dengan ibu. Kabarnya Dhani sempat nangis awal-awalnya. Bagus Le.....bagus nangis sekarang daripada engko kowe nangis ning alam kubur. Coba....

Minggu malam, 20 Desember 2010 Mbak Ning nelpon saya sambil nangis: Dhani jatuh di kamar mandi.

"Dimana?" tanya saya.

"Di Pondok."

"Ya udah. Nggak usah nangis. Datangi aja. Dan jangan lupa banyak baca zikir di bis...", saran saya berusaha menenangkan hati Mbak Ning. Saya tahu semua wanita merespon musibah kecil begini dengan tangisan. Sedang sebagian besar laki2 menganggap beginian sebagai hal kecil.

Senin paginya saya telpon Mbak Ning. "Gimana"

"Alhamdulillah agak baikan, setelah diurut ke dukun pijet", kata Mbak Ning.

Ya Rabb.....ikhlaskan hati Mbak Ning, menemani hari-hari sulit Dhani dalam berjihad di jalan-Mu dengan belajar mencari ilmu untuk bekal dia dunia-akherat. Teguhkanlah hati Dhani untuk ikhlas dengan jalan takdir-Mu sehingga kelak dia iklhas pula mendoakan saya, Om-nya, tantenya, Ibunya ketika kami semua sudah ada dialam kubur.

Ya Rabb.....Dhani adalah generasi terakhir dan satu-satunya yang mengalir darah trah Samiari dan Sayu Sumaiyah. Jadikan kesulitan dirinya menjadi rambu di kehidupannya mendatang, Jadikan Gontor lautan ilmu baginya, yang bersama santri-santri lain berlatih, membiasakan diri beribadah dengan tuntunan kasih-sayang pengasuhnya, dan jadikan semua usaha kami berujung kebaikan pada akhirnya. Amin.

MENSIKAPI DATANGNYA MASA TUA

09 Desember 2010 | Komentar

Setelah solat subuh di Mejid Al-Muqarrabin, pagi ini, 3 Muharam 1432 H atau 9 Desember 2010, saya buru-buru pulang.

Apa pasal?

Saya pengen buru-buru nulis di blog ini mumpung ingatan saya tentang materi kultum yang saya bawakan masih anget bin kebul-kebul. Heee.....

Begitulah Pembaca Yang Budiman, saya barusan share pengetahuan dengan ngasih kultum di mesjid kali ketiga atau dalam 3 bulan terakhir ini. Seperti biasa materi saya kumpulin dari internet, Quran, beberapa hadist dan beberapa riwayat.

Kebiasaan juga masih, saya mempersiapkannya jam 21.00 ampek 23.30 wib, terus siapin hape dengan irama alarm, biar nggak kelewat. Bahaya, kan?

Inilah kira-kira isi ceramah itu:

Assalamuaalaikum warrah matullahi wabaraktuh.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِهَدُاللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.، أَمَّا بَعْدُ؛

Segala puja-puji pantas kita alamatkan pada Allah pemilik zat yang sempurna. Solawat dan salam semoga terus, terus, dan terus mengalir pada manusia termulia, dan teragung disisi Allah, Muhammad saw bersama pengikutnya hingga akhir jaman.

Jamah subuh Mesjid Al-Muqarrabin yang berbahagia.
Minggu-minggu ini kita dihadapkan pada informasi yang banyak, diantaranya adalah : Jakarta dikepung para Habaib, Ustadz dan Kiai dalam rangka dakwah. Dimana-mana mereka hadir. Di Mampang Indah 2 Depok ada Majelis Ilmu bersama Ustad Abdusyukur (minggu ketiga) setiap bulan, di Masjid Moamar Qaddafy, Sentul City ada Zikir Akbar Ustad Arifin Ilham (minggu pertama), ada juga Mohammad Syafii Antonio dengan Ekonomi Syariah (tiap minggu kedua) atau hadir tandemnya Habib Mundzir Al-Musawa-KH. zainuddin MZ di berbagai acara TV-One setiap minggu.

Alhamdulillah ICMI sudah berhasil memilih ketuanya yang baru yakni Ilham Habibie yang mana dia adalah putra mantan pendiri ICMI Habibie. ICMI ini menurut hemat saya punya kontribusi mengangkat Islam sebagai komunitas terhormat. Saya ingat sebelum tahun 1984, kita semua umat muslim tidak "percaya diri" memakai simbol-simbol Islam bila tampil di tengah acara, apa saja. Dengan kehadiran ICMI, umat Islam menjadi lebih percaya diri menampilkan simbol-simbol keislamannya. Sekali lagi Alhamdulillah.

Berikutnya muncul kabar menggembirakan, yakni peresmian ASSALAM TV yang digagas oleh KH. Abdurrasyid bin Abdullah Syafii dengan tujuan meneguhkan akhlak umat terhadap "serbuan" siaran TV lain yang tidak memperdulikan konten yang islami. Siaran itu juga dalam rangka dakwah. Dan itu bukan siaran TV pertama yang berbasiskan akhlakul karim, karena di Surabaya sudah muncul duluan TV 9 yang digagas oleh PBNU. Alhamdulillah.

Kalo sekarang siaran tadi hanya menjangkau komunitas, maka Insya Allah, nantinya siaran-siaran itu juga dalam rangka "mengepung umat" dengan tontonan dan tuntunan yang islami yang bisa disaksikan oleh seluruh penduduk Indonesia.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Saya teringat sebuah ayat dalam Al-Quranur karim Surat Al-Baqarah 266 :

"Apakah ada salah seorang diantaramu ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir sungai-sungai. Dia punya kebun dengan segala macam buah-buahan. Kemudian datanglah masa tua, sedang dia punya keturunan yang kecil-kecil. Maka kebun-kebun itu di tiup angin keras yang mengandung api lalu terbakar. Demikianlah ayat-ayat Allah, mudaha-mudahan Kalian berpikir"

Ayat diatas menunjukkan pada kita pentingnya bersiap-siap menjelang tua. Menjadi tua adalah prestasi, karena boleh jadi kita-kita yang muda tidak sampai menjadi tua tersebut. Masa tua adalah masa dimana secara biologis kualitas hidup mengalami banyak penurunan: tenaga, pikiran dan organ-organ tubuh lainnya.

Tua seperti apa yang kita inginkan tergantung masa muda ketika kita mengisi hidup kita.

Waktu SMP saya pernah "disamblek" oleh guru biologi saya hanya gara-gara nanya : mengapa daun menjadi kuning , tua dan mati. Mungkin bapak guru saya menyangka saya terlalu bawel, nanya yang aneh-aneh. padahal setelah tua, saya memperoleh jawabannya: yakni itu sunatullah, suka-suka Allah mau dituakan atau dimatikan daun atau makhluk hidup di alam dunia ini.

Sama juga dulu waktu muda, saya kebingungan mau dibawa kemana hidup ini sebenarnya. Ketika itu saya berumur sembilan belas tahun dan masih kuliah. Makin dipikir, makin bingung. Padahal saat yang bersamaan, wesel nggak datang-datang, dan kasbon di warug udah mulai banyak. Setelah tua saya heran, ternyata Quran menjawabkan pertanyaan-pertanyaan sulit saya dengan jawaban yang mudah. Bukankah kita diciptakan Allah (juga jin) kecuali beribadah pada-Nya (QS. 51:56)

Pertanyaan2 sulit saya ternyata sangat mudah dipatahkan oleh Quran. Subhanallah.

Waktu kecil saya melihat para orang tua bila datang menempati saf-saf pertama di setiap waktu solat memiliki kekhasan di wajah mereka : sama-sama bahagia. Kita tidak tau apa yang sudah diperbuat mereka seharian. Yang pedagang apakah sukses bisnisnya hari itu, ada juga guru, petani, mubalig, haji, ketika datang ke mesjid mereka membawa raut wajah berbahagia. Apa gerang rahasia mereka bergembira di usia tua itu?

Dari Abu Hurairah ra nabi bersabda: Sesungguhnya Allah taala berfirman: Wahai Anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, maka Aku akan isi dadamu dengan kekayaan dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak demikian maka aku isikan kesibukan di mukamu. Dan aku tidak menutup kefakiranmu.

Boleh jadi wajah-wajah yang berbahagia dari orang-orang tua yang saya potret di masa kecil saya itu sesuai dengan penjelasan hadist tadi. Allah menutup kefakiran bagi ahli ibadah sehingga yang tampak adalah wajah-wajah yang gembira setiap hari. Maha Suci Allah.


Hadist riwayat Bukhari menerangkan: Pergunakanlah masa sehatmu (dengan amal-amal soleh) untuk bekal masa sulitmu, dan masa hidup untuk bekal matimu. Hadist ini sangat relevan dengan tugas-tugas kemanusiaan kita dimuka bumi Allah ini.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar : Rasululullah bersabda: Jadikan dunia seakan-akan kamu orang asing/perantau. Maka kehendak Allah atas apa yang sudah kita punya dan dapatkan akan bernilai keiklasan. Bila dulu kita nggak pumya apa-apa, lalu kita kini juga sama, maka sejatinya kita adalah pengembara yang iklas kemanapun dan apapun yang akan hinggap di kehidupan kita.

Sepeninggal rasul penduduk Madinah dan Andalusia Spanyol ketika berumur 40-an (tua) beramai-ramai beribadah. mereka datangi masjid-masjid dengan mengurangi kesibukan mencari materi. Juga dalam rangka mobilisasi bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan sesudah mati.

Masa tua juga disikapi secara menarik oleh Imam Syafii, salah satu ikon kebesaran cendekia muslim, yang mana beliau diusia itu sudah memakai tongkat.

Ketika sahabatnya bertanya: Wahai Imam mengapa Engkau memakai tongkat, padahal engkau belum tua? Imam Syafii, yang hapal Quran diusia 7 tahun, dan mencengangkan-dengan ilmu-ilmu Islamnya dikala usia 15 tahun, itu menjawab : Agar aku selalu ingat bahwa aku adalah mufasir (pengembara) di bumi Allah. Syahwat kehidupan dunia ingin kutinggalkan dengan memakai yg lazim-lazim saja.

Tentu kita ingat Imam Syafii adalah Sang Phenomenon dalam ketokohan dengan ketawaduan yang sempurna dan 1 dari sekian cerdik cendekia Islam terkemuka dalam seratus tahun sejarah disamping Umar bin Abdul Azis.

Syair dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menggambarkan kesia-sian umur manusia bila tidak dipakai untuk ibadah : "Jika seorang pemuda dikaruniai usia 60 tahun, maka separoh usianya habis oleh tidur di malam hari. Sementara seperempat usianya berlalu tanpa diketahui. Seperempat usianya yang lain dimangsa sakit, uban, dan kesibukan keluarga.

Maka dari itu, saya mengajak kita yang masih muda-muda ini bersiap dengan datangnya masa tua nanti dengan "keep fight" ibadah. Sedangkan bapak-bapak yang sudah tua teruslah secara konsisten beribadah, mensyukuri nikmat panjang usia pada-Nya, terus mencari ilmu karena boleh jadi ada ilmu yang datang dikala senja usia dan tidak datang pada usia muda.

Akhirnya, mudahan kultum ini menjadi ibrah buat saya dan selamat menikmati sajian perjalanan ruhaniah yang membentang penuh cahaya dari Allah swt. Amin.

Bilahhi taufik wal hidayat. Wassalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh.

KULTUM KEDUA: SOLAT DI MAL

21 November 2010 | Komentar

Pada kultum kedua kalinya ini, saya agak santai. Nggak seperti Kultum pertama yang harus mempersiapkan diri berhari-hari. Namun gara-gara terlalu santai, malam sebelum kultum, teks atau rancangan kultum malah belum ada. Paksa-ai begadangan sampek jam 12. Halah, malah menyiksa kalo gini caranya. Hehehe....Jangan ditiru ya penonton.

Tetep saya siapkan alarm 2 hape untuk jaga-jaga, biar subuh nggak keliwatan. Benar saja, alarm bunyi jam 3.30. Wuih saya langsung mandi, tahajudan, hajat dan ngabur ke mesjid. Saya deketin Mas Supri abis tahiyatul masjid.

"Giliran Pak Slamet, nih...", katanya.

Saya manggut sambil berdoa. Gawat kan kalo salah jadwal. Hehehe....Setelah Pak Ilyas Rafi menyelesaikan wirid pendeknya, saya tampil.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabil alamin, wal akibatu lilmuttaqin. Fala ngudwana ila ala dholimin. Wa sholatu wa salamu ngala srofil ambiyai wal mursalin wa ala alihi wa sohbihi wa man tabiahum illa yaumiddin.

Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam. Dan akherat adalah untuk mereka yang bertaqwa. Tak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang dholim.

Solawat dan salam semoga tetap tercurah limpah pada Rasul paling mulia Muhammad saw, keluarga, sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Pembalasan.

Jamaah subuh Masjid Al-Muqarrabin yang dirahmati Allah. Saya mengajak jamaah untuk menelisik surat Al-Mukminun ayat 1-3,

Audzubillahiminasyaiton nirajim
Kod aflakhal mukminuun
Aladina hum fii sholatihim khosiuun
Waladzina hum 'anil lagwi mukriduun
Sodaqollahul adziim

Beruntunglah kaum beriman, yaitu orang-orang yang khusuk dalam solat dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia.

Selanjutnya dalam riwayat Tabrani, Rasulullah bersabda : Amal yang pertama kali diangkat dari muka bumi adalah sholat. Barangsiapa yang baik sholatnya, maka akan baik amalan-amalan lainnya, dan barangsiapa yang cacat sholatnya, maka akan buruk pula amalan-amalan lainnya,

Pagi ini saya tidak akan membahas masalah trik dan ciri-ciri orang yang khusuk sholatnya. Insya Allah di sesi lain akan dibahas secara komprehensip. Namun saya akan membawa jamaah untuk sejeniak menengok cara sholat saudara-saudara kita umat muslim lain di tempat lain.

Secara tradisonal sentra-sentra ekonomi kita orang Indonesia umumnya adalah di pasar, di sawah, di kebun, di pantai dan sebagainya. Namun sekarang, seiring perkembangan desa menjadi kota, maka sentra-sentra ekonomi menjadi di mal, di pasar, di terminal dan sebagainya. Saya akan coba potret cara peribadatan kita di mal. Kalau jamaah pergi ke mal dan tiba waktu sholat, datanglah ke tempat sholat di mal. Disekitar Bukit Cengkeh 2 sudah banyak mal-mal berdiri. Ada mal yang jumlah tenant-nya banyak (300 manusia) namun tempat sholat hanya mampu menampung 20 jamaah saja. Bagaimana kalau magrib tiba dengan waktu pendek? Ironisnya ada mal yang besar, dengan jumlah pedagang dan pengunjung yang banyak namun bila waktu sholat tiba, yang datang sangat sedikit. Bisa jadi hanya 10-20 saja.

Di Pejaten ada mall yang tempat solatnya sempit, tanpa kipas sehingga selesai solat jamaah mandi keringat. Ini berbeda dengan tempat -maap-toiletnya yang bersih, dingin dan kering. Masak tempat bertemu hambanya dengan pemilik bumi dikalahkan dengan toilet.

Di Medan, ada mall yang tempat solatnya saingan ama pedagang dan berlokasi ditangga naik mal. Sungguh memprihatinkan.

Tak jarang tempat solat di mal menempati bekas parkiran, dekat derungan suara mesin AC dan diatap gedung. Bagaimanakah agar khusuk? Tampaknya orang dengan level iman, ilmu dan amal yang tinggi saja yang solatnya tak dipengaruhi oleh suasana yang hingar-bingar seperti itu. Lantas bagaimana dengan orang yang butuh keheningan, ketenangan dan suasana damai untuk bertemu Tuhannya?

Di kampung saja, yang sudah tenang, jamaah perlu puji-pujian untuk sampai pada suasana syahdu, dan siap untuk bertemu dengan Allah. Lalu kalo di mal, di pasar, di terminal? Yang suasana naturalnya sudah begitu dari sononya: bagaimana cara jamaah solat bersiap bertemu dengan Khaliknya?

Di tempat yang tidak layak seperti itu, bagaimana bisa solat khusuk? Padahal mereka tinggal dan berinteraksi seperti itu berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun? Kualitas solat seperti apa yang mereka hasilkan.

Sungguh karunia Allah kita masih bisa beribadah solat dengan enak di Mesjid Al-Muqarrabin ini: tenang, terang, bersih dan dingin. Lha mereka, solat perlu berjuang seakan di medan perang. Apalagi para pemilik mal rata-rata bukan muslim yang bisa mendisain rancangan mal customized dengan tempat solat para penghuni mal.

Apa langkah kita bersama. Insya Allah, kita harus bantu mereka. Gerakan dakwah kita tidak cukup hanya di ring satu lingkungan sekitar masjid. Kita perlu meluaskan arah perjuangan kita di sentra-sentra ekonomi karena akan banyak membantu jamaah lain memperbaiki kualitas solat mereka.

Masjid-masjid harus dibangun di sekitar mal, pasar, dan terminal. Lewat DPR harus diundangkan peraturan daerah yang mengatur bagian mal untuk solat. DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) harus membantu masjid atau tempat solat di mal di sekitar masjid. Baik bangunan fisiknya, sarana-prasarana, program-program tausyiah dan sebagainya.

Belum lagi bila kita melongok acara siraman rohani di tempat2 seperti itu. Matahari Dept Store setiap Jumat pagi selalu mengisi acara dengan Yasinan atau tausyiah dengan pemateri dari luar. Tapi kebiasaan baik itu tidak terjadi di jaringan toko lain. Mereka dibiarkan tanpa tambahan ilmu, siraman rohani atau sejenisnya padahal mereka hidup dan menggantungkan hidupnya dari tempat-tempat itu bertahun-tahun.

Kita musti punya gerakan masive untuk merubah semua itu sehingga semakin banyak umat Islam yang memiliki kualitas solat dan kulaitas ibadah yang sempurna khusuk dan kaffah.

Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan yang peka terhadap kesulitan orang lain. Dan mampu menolong memperbaiki tata-cara beribadah dengan kemampuan kita sendiri. Insya Allah.

Billahi taufik wal hidayah. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.




KULTUM PERTAMA : MENJAGA PANDANGAN

| Komentar

BERHARI-hari saya mempersiapkan diri untuk tampil fenomenal dalam acara kuliah tujuh menit di Mesjid Al-Muqarrabin itu. Banyak kitab saya baca, banyak ayat saya analisis, dan banyak hadist saya lingkari. kemudian disortir sesuai dengan tema yang akan saya bawakan.

Sehari sebelumnya saya udah setel alarm 2 hape agar tidak macet salah satunya sehingga bisa membangunkan saya tepat pada waktunya.

"Kring....kring...kring....!!!" bunyi hape membangunkan saya pukul setengah 4. Berarti saya punya satu jam untuk mempersiapkan diri. Saya mandi lalu solah tahajud, hajat lalu terdengar adzan subuh yang dilantunkan oleh Mas Supri. Saya bergegas ke mesjid. Pendek kata, setelah solat subuh dipimpin oleh ustadz Nur Fadil, saya tampil.

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.

Hamdaliraba Khasona bi Muhamadin wa ankodana min dulmatil jahli wa daya jirrin. Alhamdulillahil ladihadana bingabdihil muhtar. Man dangana ilaihi bil idni waqod nadana labaika ya mandangana wa khadana Sholallahu wa salam wa barika alaihi wa ngala alihi. Alhamdulillahil ladi jamangana min hadal majma-al karim wal hamdulillahil ladi jamangana hada....adim wa fi hadihil jamsah.

Limpahan puji kehadirat Allah maharaja langit dan Bumi. Maha Penguasa Tunggal dan abadi. Maha melimpahkan keluhuran dan kebahagiaan bagi hamba-hambanya setiap waktu. maha melimpahkan kelembutan dan kenikmatan yang tiada henti.

Tak satu detikpun rahmat dan kasih sayangnya terhenti terkecuali terus mengalir pada kita, kenikmatan melihat, kenikmatan mendengar, kenikmatan berbicara, kenikmatan bergerak, berpikir, merenung, kenikmatan sanubari, kenikmatan luhur lainnya dan kenikmatan itu terus berlanjut. Kenikmatan bernapas, kenikmatan penggunaan jantung dan seluruh tubuh kita, kenikmatan cahaya matahari, kenikmatan gelapnya malam, kenikmatan indahnya pemandangan, kenikmatan udara dan berjuta-juta kenikmatan lainnya.

Pernah seorang Arab Badui bertanya pada Muhammad ibnu Ali bin Al-Husein: Apakah Tuan pernah melihat Allah ketika beribadah?

Cicit Rasulullah ini balas menjawab, "Saya tidak akan beribadah pada Tuhan yang tak terlihat".

"Bagaimana Tuan melihat Tuhan?" kejar si Badui.

"Dia memang tidak terlihat oleh pandangan mata, melainkan oleh kalbu dengan hakekat keimanan. Dia tidak tergapai oleh panca indera tapi dikenali lewat ayat-ayat dan disifati oleh tanda-tanda", papar cicit Rasulullah ini.

Pandangan mata dhohir sangat terbatas, oleh karena itu kita mestilah mengaktivasi pandangan batin. Pandanga dhohir sendiri perlu dikelola, karena bila tidak justru menyeret kita dalam dosa yang tidak perlu.

Diriwayatkan oleh Isa a.s pernah berkata : Kebaikan itu terdapat pada 3 hal :
1. Ucapan, kalau bibir mengucap bukan untuk dzikir maka ucapan kita adalah sia-sia.
2. Pandangan, pandangan bukan dengan maksud mengambil pelajaran, maka ia lalai.
3. Diam, bila dalam diam ia bukan tafakur, maka dia hanya main-main.

Waspadalah, jangan sampai mengarahkan pandangan pada sesuatu yang tidak halal karena ia adalah anak panah yang mengena dan kekuasaan yang mendominasi.

Di jalan kita sering tanpa sengaja bertatapan mata dengan orang lain. Ada yang ramah, tapi banyak yang cuek, bahkan kadang bengis. Semua itu perlu disikapi secara arif dan bijaksana agar kita terhindar dari salah paham.

Di kampung bila kita berpapasan dan bersitatap dg orang lain, boleh jadi orang tadi akan tersenyum dan mengangguk takzim. Tanda bahwa semua orang kampung ramah dan bersahabat walau belum kenal atau ketemu. Namun di kota hal seperti itu jarang terjadi. Bila kita agak sedikit lama menatap mata orang, boleh jadi mulut orang akan berkata : Apa lu lihat-lihat. Ngajak berantem, lu! Maha Suci Allah.

Rasulullah saw pernah bersabda: Pandangan itu salah satu anak panah iblis. Barangsiapa yag meninggalkan karena takut pada Allah dan diikuti oleh keimanan, ia akan mendapat manisnya dalam hati.

Ali pernah pula berkata: Mata adalah jalan setan. Mata segera mempengaruhi anggota tubuh lainnya. Jadi barangsiapa yang menundukkan anggota-anggota tubuhnya dibawah kendali hawa nafsunya dalam memperoleh kelezatan, berarti ia telah menyia-nyiakan perbuatan baiknya.

Saking pentingnya menjaga pandangan mata, beberapa pondok pesantren seperti Gontor, Tebu Ireng dan Lirboyo konon, mengharamkan nonton TV bagi santri-santrinya kecuali acara khusus Piala Dunia atau All England.

Pengasuh Pondok Pesantren beralasan bila banyak nonton TV, santri akan sulit menghapal Quran dan Hadist. Bayangkan anak-anak kecil sekarang yang dibiarkan oleh orangtuanya bisa-bisa nonton TV seharian. Ujungnya adalah anak malas menghapal, malas pergi belajar dan tidak peduli adzan magrib karena asyik nonton atau main game.

Kita sendiri juga akan sulit tumakninah ketika sholat, karena sering melihat maksiat. Bayangan maksiat lebih mendominasi pikiran dan hati ketimbang hadirnya Allah disetiap denyutan napas doa kita. Inalillahi wa inailahi rojiun.

Kesimpulannya, seperti disarikan oleh Imam Al-Ghozali: Barangsiapa mengumbar pandangannya, niscaya banyak penyesalannya. Banyak memandang akan menyingkapkan rahasia, membukakan kejelekan manusia dan mengekalkan tinggal dalam NERAKA SAQAR. Audzubilahhi min dzalik.

Semoga kita digolongkan Allah kedalam insan-insan yang terampil menjaga amanah mata untuk kebaikan. Billahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum warrahmatullahi wabaraktuh.

Kontributor Kultum

12 Oktober 2010 | Komentar



Bismillahirarahmanirrahim,

Hanya Dia yang menggerakkan ujung jari ini menulis hurup demi hurup untuk dibagikan ke tengah sidang pembaca yang budiman. Allah juga tujuan saya menghimpun dan merekap detik demi detik ketegangan saya di beberapa hari ini agar kelak bila anak-cucu saya membaca tulisan saya ini, ia turut "tegang" seperti yang dialami datuknya. Subahannallah.

Pembaca yang budiman,
Beberapa hari ini saya tegang bukan kepayang. Tidur tidak lelap, makan terburu-buru dan napas terengah-engah. Apa pasal gerangan? Tak lain dan tak bukan adalah nama saya masuk dalam daftar kontributor menjadi pemberi materi ceramah kultum (kuliah tujuh menit) di mesjid Muqarrabin, mesjid komplek dimana saya tinggal. bagi sebagian orang hal itu biasa, namun bagi pemilik nama Slamet Ismulyanto itu sangat luar biasa. Mengingat dia akan memberi kontribusi kultum dihadapan para solihin, tempat berkumpul orang saleh. Itu tak pernah terjadi sebelumnya, seumur hidupnya. Hanya Allah yang memberi kesempatan "corong" itu padanya setelah terakhir kali "corong" itu ia pegang diusia sebelas atau 12 tahunan.

Sekedar mereview saja, Slamet pernah berjaya di lomba tilawah Quran tingkat SD se kecamatan Pesanggaran-Banyuwangi tahun 1981. Untuk prestasinya itu, Slamet diminta membaca tilawah Quran di Pemilu 1982 oleh salah satu parpol waktu itu dihadapan ribuan peserta kampanye. Sebelum-sebelumnya malah ia dikala usia 8-10 tahun menjadi muadzin "cilik" di "Langgar Tengah" Jalan Manggar Sukrejo Blitar. Dan kadang-kadang jadi muadzin tanpa speaker di langgar Mas Madun masih di jalan Manggar. Waktu itu saya tinggal di komplek markas Kompi Ban Jalan Tanjung Sukorejo Blitar.

Dulu waktu masih remaja ada cerita indah waktu ngaji di Langgar Tengah, saya datang ke langgar sekitar jam 16.30 wib, lalu bergegas ke ruang amplifier untuk satu tujuan: nyembunyiin microphone, biar nggak keduluan teman. (Jahat bener, dulu ya? Astagfirullah). Lalu pas bedug ditabuh, saya juga yg nabuh lalu saya juga yang adzan. Bangga bener dulu kalo bisa melalui proses itu (nyembuyiin mic, mukul bedug sendiri dan adzan sendiri). Mau soleh sendiri, apa, astagfirullah!!!

Abis magrib, kami anak markas (Mbak Utami, Mbak Rin, Mbak Ning, Widodo, Hari, Anes dan saya) bergabung dengan anak-anak sekitar langgar mulai nderes Quran dibawah supervisi Kang Marji ato Mas Baweh, kadang-kadang Mas Arief. Tiap hari materi pelajaran berganti Tauhid, Tajwid dan Fiqih lalu nderes Quran. Saya juga ikut silat Tapak Suci tiap rabu malam. Namun sayangnya, saya nggak gabung di samroh-an atau nazid versi anak sekarang. Padahal hati saya hingga kini "tergetar" manakala mendengar bunyi bedug ditabung mengiringi setiap alunan puji-pujian dalam nasyid itu.

Kembali ke soal nyembunyiin mic, saking senengnya nyembunyiin mic, kadang ziper juga kalo Kang Marji ikut2 marah nyari, gara-garanya ada bilal "asli" mau adzan. Dengan berdebaran, akhirnya saya serahkan juga mic tadi padanya. Namun gara-gara latihan adzan di langgar tengah itu, saat di SD Sukorejo I Blitar diadain Lomba Adzan; saya juara 2, juara 1-nya Bisri Mustafa (adik Mas Baweh) temen sebangku saya.

Berbeda di Langgar Kulon (langgar Mas Madun), waktu itu tidak punya mic. Jadi kalo mau adzan, kentongan dipukul, bedug ditabuh, trus lari ke depan jendela menghadap ke barat lalu adzan sekeras-kerasnya. Lha wong nggak ada, mic!!!

Begitu kami pindah ke Pesanggaran Banyuwangi ikut Bapak pindah tahun 1981, praktis "kegemaran" saya nyembunyiin mic dan adzan dengan gagah berani sirna. Oleh karena masjid di Siliragung Pesanggaran tidak ada anak kecil boleh adzan. Kata orang suara saya bagus bila mengumandangkan adzan. Itu betul, karena tiap lihat TV mengumandangkan adzan, saya ikuti hingga napasnya sama dengan yg di TV. lagian suara anak-anak kan memang bening pol. Coba sekarang, pasti butek pol. Hehehehe...


Tragisnya, saya belajar Islam juga berhenti di kelas 6 SD. Sehingga sejak itu sampek dewasa umur 35-an praktis belajar Islam serabutan. Baru setelah itu kembali menemukan giroh untuk belajar memperdalam agama liwat buku, taklim, kumpul ama habib, solihin dan silaturahmi ke zikir-zikir akbar. Umur 38 tahun di 2006 saya bersama istri hampir-hampir sapu bersih 10 hari iktikap di mesjid. Itu kami ulangi di 2009 dan 2010 ini. Hasilnya sungguh luar biasa untuk ukuran perjalanan rohani saya. Saya makin takut Allah, makin semangat memakmurkan masjid dan efek sampingnya saya makin rajin berjamaah solat Isya dan Subuh dalam segala susanana, kering, hujan, guntur atao dingin pol.

Itulah sebabnya, begitu saya solat subuh di Muqarrabin, Mas Supri menjulungi saya lembaran jadwal kultum dan ada nama saya di tipe-ex hijau ; H. Slamet. Hah? Nggak salah orang nih Mas Pri?

Nah, begitulah sidang pembaca yang budiman. Saya kalang kabut menyiapkan materi kultum, maka jadwal saya seminggu lagi. Hadoh-hadoh!

Para kontributor kultum yang saya tahu, diantaranya : Pak Agus Suhendar (mantan Ketua DKM) bagus referensi kultumnya, terus Pak Daryono (Ketua DKM) sangat dialektip-reflektip. Pak Dody Wahab punya tema-tema sosial yang imajinatip, terus Pak Arifin Laisa (sekretaris RW) yang menggugah, Pak Ilyas Rafi dengan gaya jenaka. Nah lalu saya mau pake gaya apa?

Secara background, saya seorang generalis, penyuka kehidupan. Gaul dengan tukang sayur, ojek, tukang bangunan, tukang sampah, tukang bakso dll. Lalu bidang minat saya tidak spesifik, tapi meluas. Walah. Yok opo iki, Rek.....

Saya tengah menyiapkan skenario kultum itu dalam selembar teks yang memuat garis besar isi ceramah. Ben gak ngaco, kemana-mana. Terus temanya apa ya? Terpikir mau kasih tema tentang pentingnya jamaah mengelola air yang liwat di hadapannya, ato fungsi tanaman di depan rumah,ato peringkat iman dimata Allah. Wuih, gak ada yang meyakinkan. hehehe...

Saya berkeyakinan, tugas kontributor kultum seperti pramusaji restoran, customer service, atau sales bagi firman Allah dan Sunah Rasulnya. Materi ada dimana-mana, tinggal pungut, olah, masak, dan sajikan di meja jamaah. Beres. Saya tidak punya target bahwa kultum saya harus memukau hadirin apalagi memikat jamaah. Sama sekali tidak. Itu niat yang salah. Saya berniat, menyajikan dengan ikhlas, selama 7 - 10 menit dan seperti sedang berbicara di depan Allah. Karena memang kita tengah bicara di rumah Allah.

Yang saya catat, jamaah subuh ada 3 shaf (kira2, 50 orang, dengan peserta aktip - sampai akhir kultum-20 orang). Rata-rata berumur 50-60 tahun, orang komplek 50%, sisanya sekitar komplek. Dan gaya mendengarkan jamaah setengah merem alias terpejam, menahan kantuk. Jadi kalo temanya nggak meledak, mata mereka makin merem.

Duhai Allah, permudah urusanku dengan jamaahMu, pilihkan tema yang berguna buat mereka dan lancar buatku, jaga niatku semata-mata untuk meraih level iman pada-Mu, bukan niat ujub, sok pinter, paling tau agama, apalagi pamer kesolehan.

Duhai Allah, sekiranya Engkau berkehendak, jadikan peran kontributor kultum sebagai jalan bagiku untuk belajar memperdalam sebagian firman-Mu, jalan bagiku untuk menjaga silaturahmi dengan mereka, menjadi bagian dari mereka, dan jadikan setiap ucapan terilhami Quran sebagai peta kehidupan dari-Mu.

Duhai Allah, jagalah lidahku untuk tidak riya, tidak menyinggung, tidak memecah-belah. Tapi jadikan setiap ucapanku menjadi obat penawar hati jamaah di kala dahaga, ato kesejukan dikala mereka kepanasan di tengah kepungan diskusi yang tak berkesudahan. Hasbunallah wa ni'mal wakil, nikmal maula wa ni'ma nasyir....

Doain saya, ya pembaca yang budiman, mudahan lancar persiapan saya jadi kontributor kultum.





JOGJA

16 Maret 2010 | Komentar

Mana tulisan Jogja yang benar: Jogja, Jogya, Yokya, atau Yogja. Itulah. Karena saya suka ketegasan, maka saya pake Jogja untuk menuliskan kota Jogjakarta. Minggu lalu saya hampir 4 hari penuh keliling kota Gudeg ini.

Wisata?

Bukan. Lebih tepatnya survey. Mengapa survey? Karena saya udah bikin program harus segera persiapan get out dari kota penuh sesak: Jakarta. Salah satu kota inceran itu adalah Jogja. Perjalanan ini adalah kali ketiga saya mengunjungi kota ini, sebelumnya saya pernah singgah di tahun 1998 dan 2003 bareng istri. Kotanya "ayem' dan penduduknya ramah.

Dari rumah saya diantar istri sampe stasiun UI Depok lalu meneruskan perjalanan pakai kereta ekspress Bogor-Jakarta turun di Gambir. Dari Gambir, saya naik Taksaka berangkat pukul 20.45 wib. Karena perjalanan malam hari, dus saya nggak bisa lihat pemandangan karena gelap. Akhirnya saya putusin memejamkan mata saja. Karena kereta eksekutip, maka jarak Jakarta-Jogja yang 518 km hanya ditempuh dalam waktu 8 jam saja dengan beberapa perhentian di stasiun besar seperti, Cirebon, Purwokerto dan Tugu Jogja.


Saya benar-benar menikmati perjalanan dengan kereta ini, nggak usah cape nyetir, bisa tidur pules, dan segera nyampe.

Sesuai rencana saya dijemput teman saya dan dibawa ke Bantul, 13 km selatan Jogja. Sepanjang jalan hampir tidak ada macet yg berarti kecuali di lampu merah. Namun Jogja sekarang banyak orang pake sepeda motor lalu-lalang di jalan. Hanya sesekali saya jumpai orang pake sepeda kayuh.

Hari pertama, saya langsung diajak ke Sleman daerah Kaliurang. Daerah Kaliurang adalah dataran tinggi di Jogja yang berhawa lebih sejuk dibanding Bantul dan Jogja kota. Di situ melihat pembenihan ikan, pasar benih dan lokasi pemancingan. Disini jalan menanjak, cos memang lereng gunung menuju Merapi, gunung paling aktip di Jawa. Tampaknya udeh deket rumah Mbah Kakung Marijan. Hehehe....

Kanan-kiri jalan orang Kaliurang menanam tanaman salak. Secara umum lokasi di Kaliurang sejuk, walau tidak sesejuk Puncak (Jabar), Malino (Sulsel), Banjarnegara (Jateng), dan Gunung Lawu (Magetan). Namun mirip Batu (Malang). Banyak orang mengusahakan penginapan dan akan rame menjelang sabtu-minggu.

Setelah asyik muter2 di Cangkringan, WidodoMartani dan sebagainya, solat dhuhur di salah satu masjid, kami lanjut ke Janti (Klaten) kawasan pemancingan ikan.


Kami mengira jarak Jogja - Janti cumak 10-15 km, ternyata hampir 70 km sodara-sodara...Pantesan nggak nyampe2. Daerah Janti yang saya lihat banyak sumber air (umbul) sehingga tak heran kalo banyak muncul bisnis pemancingan, pembenihan dan pembesaran ikan konsumsi: ada nila, mas, gurame, dan bawal.

Dari penerawangan saya pake Google Earth, Janti terlihat kotak-kotak dikelilingi sawah, dimana kota-kotak itu adalah area budidaya perikanan yang diusahakan penduduk. Disini setidaknya ada dua lembaga yang mengusahakan pembenihan ikan, pertama dinas perikanan dan yang kedua swasta.

Pasarnya jelas, untuk pemancingan. saya yakin pasa lokal pemancingan memberikan keuntungan optimal dibanding harus supply ikan ke daerah lain. Hal ini dapat dipahami karena ikan hasil pancing jauh lebih mahal daripada sekali panen harus jual ke pedagang grosiran dengan harga murah.

Namun pasar untuk pemancingan juga tidak stabil sepanjang musim. Kadang rame dan sering sepi. Nah kalok sudah gini usaha perikanan jadi runyam, karena harus melempar hasil usaha budidaya segera ke luar. Akibatnya menjadi rumit karena bila tidak siap, hasil panen berharga murah.

Sengaja saya datang di saat musim banyak air (penghujan), nanti bila musim kering tiba, saya akan survey kembali. Ini untuk memastikan ketersediaan air di dua musim yang sekarang tak dapat diprediksi secara tepat datangmya.

Kami pulang sampai rumah pukul 20.00 wib. Saya langsung terkapar, tak beradaya, cos menempuh jarak hampir 200 km hari itu. Mana baru nyampe dari Jakarta, pagi tadi.

Hari kedua, saya menuju Joglo Tani Pak Theo. Saya di Jakarta dikasih lihat videonya by Pak Hery Setyarso. Joglo Pak Theo terletak di Sleman dekat Jogja, nggak nyampe jauh ke Kaliurang. Pak Theo menerima kedatangan kami. setelah sedikit share informasi pertanian, kami diajak ke farm kompos tak tauh dari Joglo Tani.




Lokasi farmnya terletak di tengah sawah, dibuat rumah sederhana tempat baca, belajar, dan terima tamu. Dibelakangnya ada kandak bebek bersebelahan dengan rumah kompos yang lagi di set up. Yang menarik rumah bebek ini bukan piaraan Pak Theo, tapi hasil praktek anak2 mahasiswa yg magang latihan kerja di Pak Theo. Gambar kandang bebek diatas adalah punya mahasiswa dari Aceh yg belajar di Rumah Bebek Pak Theo.

Yang saya catat dan agak menarik adalah ada plakat putih dari Rotary International baik di Joglo tani maupun di rumah bebek Pak Theo. Tampaknya ada bantuan asing yang sampai di Pak Theo dan dikelola dalam pembangunan Joglo Tani dan Rumah Bebeknya, artinya bukan swadaya masyarakat Sleman.


Walaupun keliatan sepele, bagi saya ini penting untuk melihat level kemandirian sebuah usaha. Iya dong. Saya hanya berhitung Pak Theo, dapat hasil darimana kalo hanya ngandalin Joglo Tani-nya saja yang 1000 meter persegi itu. Kata kawan saya, bisa jadi penghasilan utamanya justru adalah pelatihan. Hmm....benar juga, pikir saya.

Namun over all, apa yang dilakukan Pak Theo untuk memandirikan warga Sleman atas potensi lokal-nya patut mendapat apresiasi walaupun belum bersambut menjadi sebuah gerakan masip yang diikuti oleh semua petani Sleman.

Karena sorenya hujan, kami segera balik ke kamp kami di Bantul.

Hari ketiga, kami mengunjungi Kasongan dan silaturahmi dengan Sapto Nugroho Hadi. Kasongan adalah sentra industri keramik teramai di Jogja. Ada kawasan perajin di atas dan di deket kota atau jalan raya berderet toko-toko yang majang hasil karya perajin keramik. Menurut salah seorang perajin, tanahnya diambil agak jauh dari desa mereka, kalau dulu bahan baku tanah gampang di dapat di sekitar rumah mereka.

Saya senang dengan benda-benda seni, dan berharap di Jakarta nanti saya punya satu outlet yang majang benda seni dari kasongan ini. Wallahu 'Alam.

Siangnya kami silaturhami ke Sapto Nugroho Hadi, kawan lama satu kantor di Pachira Distrinusa yang setelah keluar kerja di Batam, dan kini ambil master mikrobiologi di UGM. Kami ketemu di kantin kampus dan solat bareng di mesjid kampus UGM.


Pak Sapto, begitu saya suka panggil, tetep berjenggot, malah makin lebat, dan tampak santai menerima kedatangan kami. Dia punya toko online di souvenir-nikahku.com. Toko itu jual aneka souvenir nikah asli kerajinan perak dari KotaGede.

Pak Sapto menjelaskan, bisnis di Jogja beda dengan kota lain, agak kurang customer dan harga harus murah. Mangkanya ceruk pasar dia adalah kota lain semisal Jakarta, atau bandung sepanjang internet dapat diakses mereka.

Setelah puas share dengan Pak Sapto, kami pulang. Dan inilah teman-teman yang mengantar saya survey di Jogja, Mas Ilham dan Mas Gondrong. Mas Ilham bagian tukang antar kemana saya pergi, berumur 40 tahun, single dan tangguh. Inilah orangnya:

Sedang Mas Gondrong, saya poto istananya saja yang tahun 2005 kena gempa dasyat Bantul. Mas Gondrong sukanya mancing, ibunya meninggal saat gempat dan dia belum nikah kendati sudah 39 tahun. Jomblo- wan, sejati. Maha Suci Allah untuk segera membuka hati agar segera nikah mengikuti sunnah Muhammad.


CINTA

26 Februari 2010 | Komentar



Hari itu, Jumat 26 Pebruari 2010 adalah hari penuh cinta. Cinta manusia pada manusia. Tapi bukan cinta biasa. Karena yang dicinta juga bukan manusia biasa.

Anda pasti sepaham dengan saya. Dialah manusia paling dicintai Illahi Robbi, Dzat paling sohor tanpa tandingan. Lha kalo Allah saja sangat mencintai manusia satu ini, lha mosok kita cuek bebek, Rek...

Benar sahabat, dialah Kanjeng Nabi Muhammad, manusia paling mulia derajadnya di alam manapun. Dimanapun, kapanpun dan dalam situasi apapun dia kita sebut setiap kali. Allohuma soli ala (sayidina) Muhammad. Nama manusia yang paling sering disebut oleh manusia di belahan dunia manapun selain Ibrahim dan Ali.

Terus terang, perkenalan saya dengan Kanjeng Nabi ini tidak jelas benar. ia mengalir begitu saja, manakala saya ingat, waktu saya ngaji di Langgar Tengah, Jalan Manggar, Kodya Blitar, Jawa Timur antara tahun 1977 - 1980. Umur saya waktu itu antara 9-11 tahun. Namanya juga anak kecil, baca dua kalimah sahadat, kata guru ngaji saya waktu itu. Lalu mengalunlah dengan riang Ashaduallaa illaa haillallah, wasyhaduanna muhammadar rasulullah. Kami bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan kami bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.

Sudah.

Padahal itu adalah jimat (Wong Biyen=Siji sing di rumat, satu yang dipelihara), kata-kata berkah yang membedakan kita dengan mahluk lain Allah di muka bumi. Anak kecil, mana ngerti, kan?

Tiap Maulid, (saat ini banyak ustad muda "repot" nyari nash yang cocok dengan perayaan maulid, lalu bilang maulid adalah penambahan, kegiatan yang mengada-ada, tidak dijalankan oleh para sahabat, tabi'i-tabiin dan sebagainya. Halah kok repot to, Tad. Wong ate menghormati nabine yo sak senenge to. Sing penting ra mblakrak ke arah batil dan syirik, beres.) kami merayakan dengan membawa takir lalu di tukar dengan milik santri lain, dan dibawa pulang. Tentu ini hukumnya bukan wajib kifayah, nek pas lali gak diramein yo gak popo.

Hari berganti dan musim telah lewat. Saat-saat mendekati usia 40-an, taste atau tepatnya feel Muhammad saya makin menyeruak, meruah dan membanjiri kolbu saya. Sering ketika menyebut namanya, tanpa sebab, leher tercekat, dan mata basah tanpa henti.

Siapakah Engkau Wahai Manusia Suci?

Adalah Agus Sulaeman seorang pramuniaga MDS. (Matahari Dept. Store) Jatinegara Plaza yang berjasa mengajak saya dan istri ikut tablik akbar A'a Gym, Arifin Ilham dan Ustadz Haryono di Istiqlal. Lewat majelis-majelis itulah feel saya terhadap cahaya Muhammad kian bersinar. Rasanya seperti apa ya? Ada kerinduan, himpitan perasaan dan kasih yang banyak orang merasakannya sambil berurai air mata.


Nah, Minggu2 ini saya tengah berusaha keras untuk menyelesaikan bacaan saya tentang riwayat shalihin, wali, tabi-i-tabi-in yang dekat dengan Kanjeng Nabi. Diantaranya adalah: Imam Ali Zaenal Abidin, Imam Muhammad Al Baqir, Hasan Al Basri dan lain-lain. banyak cerita bahwa sahabat-sahabat nabi ini perangainya hampir sama dengan Nabi.

Dikisahkan oleh Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mencintai dari kalangan mahluk_NYA orang-orang yang bersih, tersembunyi dan bebas dari dosa, rambut mereka berantakan, wajah mereka berdebu, perut mereka kelaparan, yang mana bila mereka minta izin, untuk menghadap pemimpin mereka, tidak diberi izin. bila mereka meminang wanita yang kaya tidak akan diterima, bila mereka pergi tidak dicari, bila mereka muncul tidak ada yang gembira dengan kedatangan mereka, bila mereka sakit tidak dikunjungi, bila mereka mati tidak diantar jenazahnya".

Sahabat bertanya: Wahai Rosulullah, siapakah mereka?

"Itulah Uwais Al Qarani, seorang yang bermata biru, berambut merah, berdada lebar, berukuran sedang, kepalanya selalu tertunduk, pandangannya terarah ke tempat sujud, bersedekap, selalu menagisi dirinya, berpenampilan compang-camping, selalu diabaikan, memakai sarung dari kulit domba, tidak dikenal oleh penduduk bumi, tapi dikenal oleh penduduk langit, seandainya ia memohon kepada Allah pasti Ia mengabulkannya. dst....wahai Umar dan Ali, bila kalian bertemu dengannya, maka mintalah kepadanya agar ia memintakan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian".

Jumat pagi itu, tak tahan saya, mengalirlah air mata yang saya sendiri tak tahu, darimana asalnya. Mengalir begitu saja. Semoga Allah mengabulkan sedikit ahklah shalihin ini mengalir pula di tubuh saya. Biasanya saya berada di lantai 2 sedang istri di lantai 1 sehingga dia tak tahu apa yang terjadi dengan suaminya.

Jam 11.30 saya berangkat ke mesjid komplek Muqqarabbin. Ambil syaf pertama, lalu duduk menunggu waktu solat Jumat. Sebelah kiri saya ada orang tua, penarik gerobak sampah dan seorang anak muda yang solat jumat pake jeans (mungkin nggak punya sarung).

Khotib Jumatnya masih muda, namun fasih membaca lafadz-lafadz Al-Qur'an. Hmm...pikir saya, pasti dari pondokan waktu mudanya, ato dari Al-Azhar. Dalam kotbah jumatnya, khotib cerita tentang maulid nabi dengan maksud mencontoh dan meniru ahklak nabi.

Ada kisah menarik, waktu itu Nabi lagi biasa berkumpul di sebuah majelis. Di tengah-tengah pembicaraan, datanglah seorang sahabat yang muter-muter nyari tempat duduk. Disini penuh, sebelah sana penuh juga. Ah...dibelakang kali, begitu pikir sahabat ini. Ternyata dibelakang juga susah bisa melihat nabi. Melihat ada sahabat yang telat datang dan bingung nyari tempat duduk, Nabi berteriak : Wahai Fulan, sambil melambai meminta sahabat mendekat.

Sahabat itu pun mendekat dengan susah payah.

"Pakaialh ini..", Nabi melepas baju gamis yang menempel di tubuhnya," Buat alas dudukmu!"

Sahabat itupun menangis. Dan Slamet pun menangis, tersedu-sedu.

Kisah kedua adalah Nabi suka menjahit (=menjarumi) baju nenek-nenek tua yang bajunya robek, di kali lain Nabi tampak memperbaiki sandal seorang anak yatim. Itu dilakukannya sendiri dan melarang sahabat membantu. Suatu hari Nabi menjumpai seoarng laki-laki separoh baya sedang bekerja memecah dan mengangkat batu. Nabi bertanya, hai Fulan mengapa tanganmu tampak hitam seperti itu?

" Ya Rasul, ini akibat terlalu keras aku bekerja untuk menafkahi anak dan istriku bertahun-tahun. Serta merta tangan Si Fulan itu di cium Nabi.

Duhai Allah, seluruh mahkluk di dunia ini ingin mencium Rasulnya, ini malah Nabi yang mencium tangan sang bapak pemecah batu. Indahnya ahlak RasulMU ya, Allah.

Mata saya kembali basah. Namun karena lagi solat Jumat, perlahan saya usap airmata yang mengalir hangat di tepian mata. Hati tiba-tiba meruah dengan cinta pada manusia pilihan Allah Azza Wajalla ini. Duhai Allah, bila saya cukup berharga untuk bertemu dengannya, pertemukan saya dengan Kanjeng Nabi Muhammad, Ya Allah. Ribuan tahun sirah nabawiyah yang saya dengar dengan bautan akhlak-ahklak mulia masih meruahkan cinta yang sempurna cinta seorang manusia pada manusia lain.

Jumat itu saya solat tenggelam dalam cinta yang membakar jiwa, seolah baru menemukan arti Muhammad dalam setiap jengkal napas saya. Yang meruah dalam aliran darah dan naik ke kepala kesadaran, bahwa Kanjeng Nabi sedang memberi bimbingan saya dengan slide-slide kehidupannya dulu.

Agak sorean, Istri minta dipijitin, karena kecapekan abis main bulutangkis bersama teman di kantor. Lalu saya pijitin dia dengan kasih. Iseng saya putar TV: ada tausyiah KH. Zainuddin MZ, Tafsir Al-Misbach-nya Quraysh Shihab dan film dokumenter sebuah keluarga di Timur Tengah yang baru pertama melakukan ibadah Haji.

Entah saking tumakninahnya saya mijet atau emang istri udah ngantuk, tak lama istri udah pules, saya hati-hati mijetnya. Secara bergantian saya wacthing ketiga channel tersebut bergantian, namun yang paling berkesan ketika ada keluarga yg baru pertama haji bercerita tentang Ka'bah. Dia mengurakannya dengan indah. "Saya takjub, demikian laki-laki itu mulai berkisah. Kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun saya selalu solat menghadap kiblat, kini Ka'bah itu di hadapan saya. Tiba-tiba air mata saya mengalir deras, begitu saja. Saya tak tahu perasaan apa yang hadir. sesuatu yang luar biasa.

Mendengarkan laki-laki itu bertutur, sambil tetap mijetin istri, mata saya basah oleh air mata haru. Keindahan yang sulit dilukiskan namun berasa lewat air mata.

Duhai Allah, alangkah indah dan mulia hidup Kanjeng Nabi yang membuat sirahnya mashur karena dijiwai oleh semangat ahklak mulianya yang diikuti oleh ahklak sahab-sahabatnya, tempat-tempat yang sering dikunjunginya, juga tak lekang oleh waktu yang berganti generasi demi generasi. Duhai Allah, bila saja seperti itu kisah-kisah ahklak Nabi, maka berikanlah mutiara hikmah bagi kami generasi yang tak pernah mengenal wajahnya namun menyeru namanya dalam susah maupun senang, melafadkan dengan sukacita akan risalah-risalahnya dan berharap mendapatkan syafaatnya, nanti di Yaummul Qiyammah.

Allahumagfirlanaaa......allahumagfirlana ya goffar- ya goffar......Allahumagtahlana abwaaaba barrahmah ...Allahumagtahlanaa waabal barokah..abwaabal nikmah abwaaabal kuwah, abwaabal laaa fiyah. Waaabwal khoirot..waabwal khoirot...waabwal khoirot ya goffar- ya goffar.. ya goffar..ya goffar...
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rumah Hikmah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger